LABUHA, Malutline – Tradisi Saro-Saro, warisan budaya gotong royong khas Halmahera Selatan, kembali mencatat sejarah luar biasa. Dalam pesta pernikahan pasangan Hasri U. Umar dan Asmita Anwar di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, kegiatan Saro-Saro berhasil menembus total pendapatan dari tradisi warga Halsel hingga mencapai Rp250 juta, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang sejarah tradisi Saro-Saro di Halsel.
Acara pernikahan yang digelar pada Minggu, 9 November 2025, di hibul oleh artis loela Drakel dan turut dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, di rumah mempelai wanita. Kehadiran Bupati Bassam Kasuba menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan tradisi lokal yang hingga kini masih hidup kuat di tengah masyarakat.
Keterangan dari paman mempelai wanita, M. Abubakar Malayu, yang akrab disapa Mul dan juga menjabat sebagai Kepala Desa Kaireu kecamatan Bacan timur kabupaten Halmahera Selatan, menjelaskan rincian hasil tradisi Saro-Saro yang fantastis tersebut.
“Untuk Saro-Saro siang di pihak perempuan mencapai Rp157 juta, sementara malam harinya terkumpul lagi Rp43 juta. Sedangkan di pihak laki-laki, setelah acara adat Antar Mohoka, dilanjutkan dengan Saro-Saro yang menghasilkan Rp75 juta,” ujar Mul kepada wartawan.
Dengan demikian, total keseluruhan hasil Saro-Saro dalam rangkaian pernikahan Hasri dan Asmita mencapai Rp250 juta.
Tradisi Saro-Saro di pihak perempuan sempat dihentikan sejenak pada malam hari karena bertepatan dengan suasana duka atas meninggalnya salah satu warga, namun semangat kebersamaan masyarakat tetap tinggi.
Sementara di pihak laki-laki, acara Antar Mohoka upacara adat Togale yang melambangkan penyambutan dan penghormatan keluarga besar mempelai pria terhadap mempelai wanita—berlangsung khidmat dan meriah, diakhiri dengan tradisi Saro-Saro yang kembali mencatat hasil besar.
Dalam keterangan , Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba kepada keluarga mempelai pria maupun wanita usai kegiatan kepada wartawan Bupati Halsel yang akrab di sapa Bassam Kasuba memberikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Desa Sabatang dan seluruh warga Bacan Timur yang masih menjaga kekuatan nilai-nilai adat dan gotong royong melalui tradisi Saro-Saro.
“Tradisi Saro-Saro adalah warisan leluhur yang sarat makna sosial dan kebersamaan. Apa yang dilakukan masyarakat Sabatang hari ini bukan hanya pesta pernikahan, tetapi juga catatan bersejarah bagi masyarakat Halmahera Selatan, bahwa budaya kita masih hidup dan terus berkembang,” tutur Bassam Kasuba.
Bassam juga berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, agar semangat saling membantu dan persaudaraan tetap menjadi identitas kuat masyarakat Halsel.
“Mari kita terus jaga adat dan budaya kita sebagai jati diri Halsel yang kaya dan berkarakter,” pesan Bupati Bassam kasuba dalam keterangannya.
Tradisi Saro-Saro dalam pernikahan Hasri dan Asmita kini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Halmahera Selatan. (Bur)










Komentar