Ternate Malutline— Suasana penuh semangat dan antusiasme terpancar dari wajah para peserta Sustainable Advokasi Training yang diinisiasi oleh KOHATI PB HMI (Korps HMI-Wati Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam) kota Ternate.
Dalam agenda yang diwarnai diskusi hangat dan gagasan cerdas ini yang di laksanakan di ngade kota Ternate Selatan, Minggu (19/10/2025) salah satu pembicara, Nazlatan Ukhra Kasuba, mengajak para peserta untuk terus berpikir kritis dan memperkuat keberpihakan terhadap isu-isu perempuan.
Dengan gaya bicara yang hangat dan komunikatif, Nazlatan membuka ruang dialog yang hidup. Ia memuji semangat para peserta—yang sebagian besar merupakan mahasiswa dan aktivis muda—karena mampu menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial, terutama terkait posisi dan peran perempuan di ruang kepemimpinan.
“Senang bisa berbagi dan berdiskusi bersama adik-adik yang cerdas dan kritis. Dari diskusi ini saya melihat harapan besar akan lahirnya generasi baru yang berani bersuara untuk keadilan gender dan keberpihakan terhadap perempuan,” ujar Nazlatan.
Dalam sesi bertema “Keberpihakan Pemimpin Perempuan dalam Isu Perempuan”, diskusi berlangsung seru dan interaktif. Beragam pertanyaan muncul dari peserta—mulai dari peran pemimpin perempuan dalam politik, kebijakan publik yang sensitif gender, hingga tantangan perempuan muda dalam dunia kerja dan organisasi.
Nazlatan menekankan bahwa keberpihakan seorang pemimpin perempuan tidak hanya ditunjukkan melalui posisi yang ia duduki, tetapi juga lewat kebijakan, keputusan, dan keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
“Menjadi pemimpin perempuan bukan hanya soal representasi, tapi juga tanggung jawab untuk memastikan suara perempuan lain tidak terpinggirkan,” tambahnya.
Para peserta pun tampak antusias. Beberapa di antara mereka berbagi pandangan dan pengalaman tentang bagaimana mereka memaknai perjuangan perempuan di ruang publik. Diskusi pun berkembang menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya solidaritas lintas gender dan lintas generasi.
Nazlatan juga berpesan agar semangat kritis yang telah tumbuh di ruang-ruang diskusi seperti ini tidak padam.
“Semoga semangat ini tidak pernah redup. Mari terus belajar, berdialog, dan berjuang dengan cara-cara yang beradab dan berperspektif keadilan,” tuturnya dengan penuh optimisme.
Agenda Sustainable Advokasi Training ini menjadi bukti bahwa gerakan perempuan di tubuh HMI—khususnya melalui KOHATI PB HMI—masih dan akan terus hidup. Kegiatan ini bukan hanya ruang pelatihan, tapi juga wadah penguatan nilai, karakter, dan kepemimpinan bagi perempuan muda Indonesia.
Acara pun ditutup dengan suasana hangat dan penuh keakraban. Para peserta berfoto bersama, saling bertukar ide, dan berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan advokasi yang berkelanjutan di daerah masing-masing. (Red)








Komentar