WEDA, Malutline — Siang itu, suasana di Halmahera Tengah terasa berbeda. Tak ada seremoni besar, tak ada protokol panjang. Hanya pertemuan sederhana antara Bupati Halmahera Tengah, Ikram M. Sangaji, dan seorang penjual ikan dari Desa Tepeleo bernama Fata — sosok yang tak bisa berbicara, namun mampu menyampaikan pesan paling jujur lewat tindakannya.
Fata datang jauh-jauh dari Patani Utara, menempuh perjalanan panjang hanya untuk bertemu sang bupati. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya, namun kehadirannya menjadi bahasa cinta yang lebih dalam dari sekadar ucapan.
“Ia tidak bisa bicara, tapi hatinya lantang dalam memberi pesan,” kata Bupati Ikram dengan mata yang terlihat berkaca.
Menurut Ikram, langkah kecil Fata bukan sekadar kunjungan biasa. Di balik kesederhanaannya, ada makna besar tentang ketulusan, tentang kepedulian yang sering luput dari pandangan banyak orang.
> “Bagi sebagian orang mungkin ini hal sepele. Tapi bagi saya, dan warga di sini, kedatangan Fata adalah tanda cinta dan kepedulian yang luar biasa,” ujar Ikram dengan nada haru.
Hari itu, tak ada kata sambutan, tak ada panggung, hanya senyum tulus yang menautkan dua hati seorang pemimpin dan rakyat kecilnya.
“Hari ini, hati saya bahagia. Bahagia yang tulus, bahagia yang tak akan pudar,” ucap Ikram.
Langkah Fata memang kecil, tapi maknanya melampaui jarak dan kata-kata. Ia datang bukan untuk meminta, melainkan untuk mengingatkan: bahwa cinta, empati, dan ketulusan adalah bahasa kemanusiaan yang paling murni. (Red)












Komentar