HALSEL, Malitline. Sejumlah warga Desa Paser Putih, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, mempertanyakan keberadaan dan kinerja Kepala Desa (Kades) Sunarjo Lanihu yang disebut sudah lebih dari satu tahun tidak menjalankan aktivitas pemerintahan sebagaimana mestinya di desa tersebut.

Keresahan masyarakat semakin mencuat setelah kepala desa yang dipercayakan untuk memimpin dan mengelola pemerintahan desa itu dikabarkan jarang berada di Desa Paser Putih sejak pencairan Dana Desa (DD) tahap pertama tahun 2025. Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat terkait jalannya roda pemerintahan dan pelayanan publik di desa.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa selama lebih dari setahun terakhir, masyarakat hampir tidak pernah melihat aktivitas kepala desa di kantor desa.

“Kalau ditanya masih ada kepala desa atau tidak, masyarakat juga bingung. Sudah lebih dari satu tahun beliau tidak berkantor dan tidak terlihat menjalankan tugas sebagaimana kepala desa pada umumnya,” ujar warga kepada media ini.

Menurut informasi yang beredar di tengah masyarakat, Sunarjo Lanihu diduga lebih banyak berada di luar desa dan disebut bekerja atau terlibat dalam aktivitas pertambangan emas di wilayah Obi Barat. Dugaan tersebut semakin memperkuat kekecewaan warga yang merasa pelayanan pemerintahan desa menjadi tidak maksimal.

Warga menilai seorang kepala desa memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola administrasi pemerintahan, pembangunan, pelayanan masyarakat hingga pengelolaan Dana Desa yang bersumber dari anggaran negara. Karena itu, ketidakhadiran kepala desa dalam waktu yang cukup lama dinilai telah menghambat berbagai urusan masyarakat.

Selain mempertanyakan keberadaan kepala desa, warga juga menyoroti realisasi penggunaan Dana Desa tahun anggaran 2024 hingga Dana Desa tahap pertama tahun 2025. Mereka mengaku masih banyak program yang hingga kini belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dinilai tidak sesuai dengan rencana yang tertuang dalam APBDes.

“Kami meminta agar penggunaan Dana Desa diperiksa secara menyeluruh. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana anggaran desa digunakan dan sejauh mana program-program yang direncanakan telah direalisasikan,” kata salah seorang tokoh masyarakat.

Desakan pun diarahkan kepada sejumlah instansi terkait, mulai dari Inspektorat Kabupaten Halmahera Selatan hingga Kejaksaan Negeri Labuha agar turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan Dana Desa serta kinerja pemerintahan Desa Paser Putih.

Menurut warga, langkah pemeriksaan perlu dilakukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus memastikan seluruh anggaran yang telah dikucurkan pemerintah benar-benar digunakan sesuai peruntukannya.

“Masyarakat hanya ingin transparansi. Kalau memang semua berjalan sesuai aturan, tentu harus dijelaskan kepada masyarakat. Tetapi jika ada penyimpangan, maka harus ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas warga.

Tidak hanya itu, sebagian warga juga meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan terhadap kondisi pemerintahan Desa Paser Putih yang dinilai tidak berjalan normal akibat ketidakhadiran kepala desa dalam waktu yang cukup lama.

Mereka berharap Bupati Halmahera Selatan dapat melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan desa tersebut demi menjamin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

“Jabatan kepala desa adalah amanah masyarakat. Jika tidak lagi menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal, maka pemerintah daerah perlu mengambil langkah tegas demi kepentingan masyarakat dan pembangunan desa,” ungkap warga.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Paser Putih Sunarjo Lanihu belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan klarifikasi terkait berbagai tudingan yang disampaikan masyarakat. Media ini juga masih berupaya memperoleh keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Inspektorat, maupun instansi terkait lainnya.

Masyarakat berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian serius sehingga tidak menimbulkan polemik berkepanjangan dan seluruh program pembangunan desa dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya demi kesejahteraan warga Desa Paser Putih, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan.(Red)

Sofifi, Malutline. Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Arif Budiman, S.I.K., M.H. menghadiri sekaligus menutup kegiatan taklimat akhir audit kinerja Itwasda Polda Maluku Utara tahap I aspek perencanaan dan pengorganisasian tahun anggaran 2026, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Rupattama lantai 3 Polda Malut.

Turut hadir dalam kegiatan itu Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Stephen M. Napiun, S.I.K., S.H., Irwasda Polda Malut, para pejabat utama Polda Malut, serta para kapolres yang mengikuti secara langsung maupun melalui sarana daring.

Dalam sambutannya, Kapolda menegaskan audit kinerja merupakan bagian penting dalam sistem pengawasan internal Polri.


Menurut dia, audit tidak semata-mata bertujuan mencari kesalahan, melainkan menjadi sarana evaluasi, pembinaan, dan perbaikan tata kelola organisasi agar setiap program, kegiatan, serta penggunaan anggaran dapat berjalan efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

Ia menjelaskan, audit kinerja tahap I ini berfokus pada aspek perencanaan dan pengorganisasian sebagai fondasi utama keberhasilan pelaksanaan tugas Polri.

Perencanaan yang baik, kata dia, akan menghasilkan arah kebijakan yang jelas, sasaran terukur, serta penggunaan anggaran yang tepat. Sementara itu, pengorganisasian yang baik memastikan pembagian tugas, tanggung jawab, dan pemanfaatan sumber daya berjalan optimal.

Kapolda menekankan setiap kepala satuan kerja dan satuan wilayah agar memastikan perencanaan program dan anggaran disusun berdasarkan kebutuhan riil, didukung data akurat, serta berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, mekanisme koordinasi dan pengendalian internal juga harus berjalan tertib dan efektif.


Menurut dia, momentum pengawasan dan pemeriksaan (wasrik) tahap I ini harus dimanfaatkan sebagai sarana evaluasi dan perbaikan kinerja organisasi, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Ia berharap Irwasda beserta jajaran dapat menjadi mitra konsultatif bagi satker dan satwil dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang lebih baik.

Kapolda juga menyampaikan apresiasi kepada Irwasda Polda Maluku Utara beserta seluruh tim audit atas pelaksanaan tugas yang dinilai profesional, objektif, dan konstruktif. Ia turut mengucapkan terima kasih kepada seluruh satker dan satwil atas dukungan selama proses audit berlangsung.

Lebih lanjut, ia meminta optimalisasi peran kepala satuan dalam melaksanakan pengawasan melekat pada setiap tahapan kegiatan, menghindari temuan berulang melalui perbaikan berkelanjutan, serta membangun budaya kerja yang tertib, transparan, akuntabel, dan berintegritas.

Kapolda berharap kegiatan taklimat akhir ini menjadi momentum pembenahan secara nyata dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kualitas perencanaan, pengorganisasian, penggunaan anggaran, serta pelayanan Polri kepada masyarakat.(Muksin)

HALSEL, Malutline – Suasana penuh khidmat dan sarat makna mewarnai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan. Dalam momentum bersejarah tersebut, masyarakat bersama para tokoh agama dan pemerintah memanjatkan doa untuk kemajuan daerah yang dikenal dengan julukan Negeri Saruma.

Pembacaan doa selamat dipimpin langsung oleh tokoh agama Desa Sagawele, Hi Husen, yang juga merupakan Imam Masjid Nur’ul Mizan Desa Sagawele, Kecamatan Kayoa Selatan. Dengan penuh khusyuk, beliau mengajak seluruh masyarakat yang hadir untuk bersyukur atas perjalanan panjang Kabupaten Halmahera Selatan yang kini telah memasuki usia ke-23 tahun.

Dalam doa yang dipanjatkan, terselip harapan besar agar Halmahera Selatan terus berkembang menjadi daerah yang maju, sejahtera, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Selain itu, doa juga dipersembahkan agar seluruh elemen masyarakat senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kekuatan dalam menjaga persatuan dan kebersamaan di tengah keberagaman yang menjadi kekayaan Negeri Saruma.

Momentum doa bersama ini menjadi simbol bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada program fisik dan kebijakan pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan dukungan spiritual serta doa dari seluruh lapisan masyarakat. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan persaudaraan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Halmahera Selatan diharapkan terus terjaga dan semakin diperkuat.

“Semoga Negeri Saruma semakin sukses dalam pembangunan, unggul dalam pelayanan publik, terus mempererat persatuan, merajut kebersamaan, meningkatkan semangat gotong royong, dan senantiasa diberkahi kemakmuran oleh Allah SWT,” demikian salah satu harapan yang disampaikan dalam doa tersebut.

Peringatan HUT ke-23 Halmahera Selatan tahun ini tidak hanya menjadi ajang refleksi atas capaian pembangunan yang telah diraih selama lebih dari dua dekade, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan daerah yang lebih maju dan berdaya saing.

Sejak terbentuk pada tahun 2003, Kabupaten Halmahera Selatan telah menunjukkan berbagai kemajuan di sejumlah sektor, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik. Meski demikian, tantangan pembangunan ke depan masih membutuhkan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat.

Melalui doa yang dipanjatkan secara bersama-sama, masyarakat berharap setiap langkah pembangunan yang dilakukan senantiasa mendapat ridha dan petunjuk dari Allah SWT. Semangat Hari Jadi ke-23 ini diharapkan menjadi energi baru untuk terus bergerak maju, membangun daerah dengan semangat persatuan dan kebersamaan.

Dengan mengusung semangat “Salam Satu Rumah”, masyarakat Halmahera Selatan menegaskan komitmennya untuk tetap bersatu dalam keberagaman, menjaga keharmonisan sosial, serta mendukung seluruh program pembangunan demi terwujudnya Negeri Saruma yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat.

Dirgahayu ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan. Bersama Membangun Negeri Saruma yang Maju, Sejahtera, dan Berkah. (Red)

HALSEL, Malutline – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan, LATANSA menghadirkan promo spesial bagi masyarakat dengan menyediakan layanan cetak foto gratis dan service printer gratis selama kegiatan berlangsung.

Program bertajuk “Promo Ambyar” ini mulai dilaksanakan pada 9 hingga 14 Juni 2026 di Booth LATANSA yang berlokasi di area UMKM Milenial. Masyarakat diundang untuk datang dan memanfaatkan berbagai layanan gratis yang telah disiapkan sebagai bentuk partisipasi LATANSA dalam menyukseskan perayaan HUT Kabupaten Halmahera Selatan.

Pihak LATANSA menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud apresiasi kepada masyarakat Halmahera Selatan yang selama ini telah memberikan dukungan terhadap perkembangan usaha lokal dan sektor UMKM.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk datang mengunjungi booth LATANSA. Dalam momentum HUT ke-23 Halmahera Selatan ini, kami menyediakan layanan cetak foto gratis serta service printer gratis bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar pihak LATANSA.

Selain memberikan layanan gratis, kehadiran LATANSA di lokasi pameran juga diharapkan dapat membantu masyarakat yang memiliki kendala pada perangkat printer, baik untuk kebutuhan pendidikan, perkantoran, maupun usaha kecil menengah.

Antusiasme masyarakat diperkirakan akan tinggi mengingat layanan yang diberikan cukup bermanfaat dan jarang ditemukan dalam kegiatan pameran maupun expo daerah. Kesempatan ini juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai layanan yang ditawarkan LATANSA.

Perayaan HUT ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2026 sendiri diramaikan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pameran UMKM, pertunjukan seni budaya, hingga promosi produk lokal yang melibatkan pelaku usaha dari berbagai kecamatan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melewatkan kesempatan ini. Kunjungi Booth LATANSA di UMKM Milenial mulai hari ini hingga kegiatan berakhir, dan nikmati layanan cetak foto gratis serta service printer gratis sebagai bagian dari kemeriahan HUT ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan.

“Ayo Kunjungi Booth Kami! Promo Ambyar, Gratis Service dan Gratis Cetak Foto.” (red)

HALSEL, Malutline – Di tengah pesatnya perkembangan wilayah dan pertumbuhan industri di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, masyarakat Desa Soligi membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak budaya. Sebaliknya, di tengah perubahan zaman, warga setempat terus menjaga dan merawat warisan leluhur yang menjadi identitas mereka, salah satunya melalui Pagelaran Kesenian Ngibi yang digelar pada Senin (9/6/2026).

Suasana malam di halaman Kantor Desa Soligi tampak berbeda dari biasanya. Tabuhan gendang yang berpadu dengan dentingan gong mengalun merdu, memecah keheningan pesisir Pulau Obi. Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati arena pertunjukan untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka.

Momen tersebut terasa semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan semangat peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan. Di tengah perayaan daerah, masyarakat Soligi memilih merayakannya dengan cara yang sarat makna, yakni memperkuat identitas budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Pagelaran Kesenian Ngibi merupakan tradisi yang berasal dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara. Tradisi itu dibawa oleh para leluhur yang merantau dan menetap di wilayah Halmahera Selatan hingga akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Soligi.

Sebelum pertunjukan dimulai, suasana yang semula riuh mendadak hening. Imam desa memimpin doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang menyatu dalam tradisi tersebut. Prosesi itu menegaskan bahwa kesenian Ngibi bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang erat kaitannya dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.

Setelah doa dipanjatkan, tokoh adat memasuki arena dengan memperagakan gerakan pencak silat yang penuh wibawa. Hentakan langkah dan gerakan yang tegas seolah membuka jalan bagi berlangsungnya rangkaian pertunjukan yang sarat makna filosofis.

Pertunjukan diawali dengan Tari Cungka yang dibawakan oleh para penari perempuan. Tarian tersebut menggambarkan awal kehidupan manusia sejak berada dalam kandungan. Dari sana, cerita kehidupan kemudian berlanjut melalui Tari Ngibi yang dibawakan secara berpasangan oleh penari laki-laki dan perempuan.

Meski tampil berpasangan, terdapat aturan adat yang dijunjung tinggi dalam tarian tersebut. Penari laki-laki tidak diperkenankan menyentuh penari perempuan selama pertunjukan berlangsung. Nilai ini menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan sebagai sosok yang melahirkan, merawat, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Tokoh Adat Desa Soligi, Imam La Puasa, menjelaskan bahwa setiap gerakan dalam Tari Ngibi mengandung pesan moral yang mendalam. Menurutnya, kesenian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat nasihat kehidupan, sejarah perjalanan leluhur, serta identitas yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, tradisi ini harus terus dijaga agar anak cucu kita tidak melupakan asal-usul dan jati dirinya,” ungkap Imam La Puasa.

Ia menambahkan, pada masa lalu Tari Ngibi sering dipentaskan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah musim panen. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut kini hadir dalam berbagai momentum penting, termasuk perayaan hari besar keagamaan seperti Iduladha.

Usai menyaksikan rangkaian tarian yang sarat filosofi, masyarakat kembali disuguhkan dengan pertunjukan pencak silat yang diperagakan oleh anak-anak hingga remaja tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sorak-sorai warga terdengar memenuhi arena ketika para peserta menunjukkan kemampuan dan ketangkasan mereka.

Meski berlangsung dalam bentuk adu keterampilan, pencak silat yang dipertontonkan bukanlah ajang untuk mencari kemenangan semata. Pertunjukan tersebut menjadi simbol sportivitas, keberanian, kedisiplinan, serta semangat ksatria yang ditanamkan kepada generasi muda Desa Soligi.

Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya dari ancaman terkikis oleh perkembangan zaman.

“Kegiatan yang didukung Harita Nickel ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat. Mari kita terus mengenali, mencintai, dan melestarikan identitas budaya kita agar generasi muda tetap memahami akar budayanya,” ujarnya.

Menurut Madaisi, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama. Sebab di tengah derasnya arus modernisasi, generasi muda membutuhkan ruang untuk mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Pagelaran budaya tersebut juga mendapat dukungan dari Harita Nickel sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian kearifan lokal di wilayah operasionalnya.

Community Relations Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menegaskan bahwa budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dijaga bersama.

“Bagi kami, budaya lokal adalah bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga bersama. Tari Ngibi bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga warisan nilai, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Soligi. Karena itu, perusahaan ingin turut mendukung agar tradisi ini tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda,” kata Wigit.

Dukungan terhadap kegiatan budaya seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan. Kehadiran industri tidak harus menjadi ancaman bagi budaya lokal, melainkan dapat menjadi mitra dalam menjaga keberlanjutan warisan leluhur.

Di tengah laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus bergerak di Halmahera Selatan, masyarakat Desa Soligi memberikan contoh bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat.

Malam semakin larut, namun semangat warga tidak surut. Tabuhan gong masih terdengar mengiringi langkah para penari dan pesilat muda yang bergantian tampil di hadapan masyarakat. Di bawah cahaya lampu sederhana, mereka tidak sekadar mempertunjukkan seni, tetapi sedang merawat sejarah, menjaga identitas, dan memastikan bahwa warisan budaya Ngibi akan terus hidup dari generasi ke generasi.

Di tangan generasi muda Soligi, tradisi itu tetap berdenyut, menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya adalah kekuatan yang menjaga jati diri masyarakat Halmahera Selatan. (Red)