Ternate, Malutline — Suasana haru dan bangga menyelimuti keluarga besar Maya Dira Suriandi, siswi SMA Negeri 3 Kota Ternate asal Desa Ngokomalako, Kecamatan Kayoa Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, yang resmi berangkat ke Jepang dini hari tadi, Rabu (13/11/2025). Keberangkatan Maya merupakan bagian dari program misi pendidikan internasional yang melibatkan pelajar berprestasi dari Indonesia.

Maya, putri pertama dari pasangan Suriandi Sabtu dan Gamar Anwar, menjadi salah satu siswi yang lolos seleksi nasional untuk mengikuti kegiatan pendidikan lintas negara tersebut. Dengan penuh rasa syukur, kedua orang tuanya menyampaikan apresiasi kepada Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, serta Kepala Dinas Pendidikan Halsel, yang telah memberikan dukungan dan sponsor terbaik bagi keberangkatan putri mereka.

“Kami sebagai orang tua merasa sangat bangga dan terharu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati dan Ibu Kadis Pendidikan Halsel yang telah membantu hingga Maya bisa berangkat ke Jepang. Ini kebanggaan bagi keluarga dan juga masyarakat Halmahera Selatan,” ujar Suriandi Sabtu, ayah Maya, dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Maya Dira mengaku bangga bisa membawa nama baik daerah di tingkat internasional. Ia bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan kembali membawa ilmu yang bermanfaat bagi generasi muda di daerahnya.

“Saya ingin belajar lebih banyak tentang teknologi dan budaya Jepang. Semoga pengalaman ini bisa menginspirasi teman-teman di Halsel untuk terus berprestasi,” tutur Maya sebelum keberangkatannya di Bandara Sultan Babullah Ternate.

Kadis Pendidikan Halmahera Selatan Siti Khodijah Spd M.pd menyebut keberangkatan Maya sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan SDM generasi muda.

“Kami berharap Maya menjadi duta pendidikan yang membanggakan daerah dan membawa pulang semangat belajar serta wawasan global bagi pelajar Halsel lainnya,” ucapnya.

Program misi pendidikan ini akan berlangsung selama beberapa bulan di Jepang, dengan fokus pada pertukaran budaya, riset teknologi, dan pengembangan karakter pelajar Indonesia di kancah internasional.

Keberangkatan Maya Dira Suriandi menjadi catatan sejarah baru bagi Halmahera Selatan, bahwa dari pelosok Kayoa Utara pun, lahir generasi emas yang mampu bersaing di dunia internasional Indonesia ke jepang.(Red)

LABUHA, Malutline – Tradisi Saro-Saro, warisan budaya gotong royong khas Halmahera Selatan, kembali mencatat sejarah luar biasa. Dalam pesta pernikahan pasangan Hasri U. Umar dan Asmita Anwar di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, kegiatan Saro-Saro berhasil menembus total pendapatan dari tradisi warga Halsel hingga mencapai Rp250 juta, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang sejarah tradisi Saro-Saro di Halsel.

Acara pernikahan yang digelar pada Minggu, 9 November 2025, di hibul oleh artis loela Drakel dan turut dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, di rumah mempelai wanita. Kehadiran Bupati Bassam Kasuba menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan tradisi lokal yang hingga kini masih hidup kuat di tengah masyarakat.

Keterangan dari paman mempelai wanita, M. Abubakar Malayu, yang akrab disapa Mul dan juga menjabat sebagai Kepala Desa Kaireu kecamatan Bacan timur kabupaten Halmahera Selatan, menjelaskan rincian hasil tradisi Saro-Saro yang fantastis tersebut.

“Untuk Saro-Saro siang di pihak perempuan mencapai Rp157 juta, sementara malam harinya terkumpul lagi Rp43 juta. Sedangkan di pihak laki-laki, setelah acara adat Antar Mohoka, dilanjutkan dengan Saro-Saro yang menghasilkan Rp75 juta,” ujar Mul kepada wartawan.

Dengan demikian, total keseluruhan hasil Saro-Saro dalam rangkaian pernikahan Hasri dan Asmita mencapai Rp250 juta.

Tradisi Saro-Saro di pihak perempuan sempat dihentikan sejenak pada malam hari karena bertepatan dengan suasana duka atas meninggalnya salah satu warga, namun semangat kebersamaan masyarakat tetap tinggi.

Sementara di pihak laki-laki, acara Antar Mohoka—upacara adat Togale yang melambangkan penyambutan dan penghormatan keluarga besar mempelai pria terhadap mempelai wanita—berlangsung khidmat dan meriah, diakhiri dengan tradisi Saro-Saro yang kembali mencatat hasil besar.

Dalam keterangan , Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba kepada keluarga mempelai pria maupun wanita usai kegiatan kepada wartawan Bupati Halsel yang akrab di sapa Bassam Kasuba memberikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Desa Sabatang dan seluruh warga Bacan Timur yang masih menjaga kekuatan nilai-nilai adat dan gotong royong melalui tradisi Saro-Saro.

“Tradisi Saro-Saro adalah warisan leluhur yang sarat makna sosial dan kebersamaan. Apa yang dilakukan masyarakat Sabatang hari ini bukan hanya pesta pernikahan, tetapi juga catatan bersejarah bagi masyarakat Halmahera Selatan, bahwa budaya kita masih hidup dan terus berkembang,” tutur Bassam Kasuba.

Bassam juga berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, agar semangat saling membantu dan persaudaraan tetap menjadi identitas kuat masyarakat Halsel.

“Mari kita terus jaga adat dan budaya kita sebagai jati diri Halsel yang kaya dan berkarakter,” pesan Bupati Bassam kasuba dalam keterangannya.

Tradisi Saro-Saro dalam pernikahan Hasri dan Asmita kini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Halmahera Selatan. (Bur)

LABUHA, Malutline – Tradisi Saro-Saro, warisan budaya gotong royong khas Halmahera Selatan, kembali mencatat sejarah luar biasa. Dalam pesta pernikahan pasangan Hasri U. Umar dan Asmita Anwar di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, kegiatan Saro-Saro berhasil menembus total pendapatan dari tradisi warga Halsel hingga mencapai Rp250 juta, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang sejarah tradisi Saro-Saro di Halsel.

Acara pernikahan yang digelar pada Minggu, 9 November 2025, di hibul oleh artis loela Drakel dan turut dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, di rumah mempelai wanita. Kehadiran Bupati Bassam Kasuba menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan tradisi lokal yang hingga kini masih hidup kuat di tengah masyarakat.

Keterangan dari paman mempelai wanita, M. Abubakar Malayu, yang akrab disapa Mul dan juga menjabat sebagai Kepala Desa Kaireu kecamatan Bacan timur kabupaten Halmahera Selatan, menjelaskan rincian hasil tradisi Saro-Saro yang fantastis tersebut.

“Untuk Saro-Saro siang di pihak perempuan mencapai Rp157 juta, sementara malam harinya terkumpul lagi Rp43 juta. Sedangkan di pihak laki-laki, setelah acara adat Antar Mohoka, dilanjutkan dengan Saro-Saro yang menghasilkan Rp75 juta,” ujar Mul kepada wartawan.

Dengan demikian, total keseluruhan hasil Saro-Saro dalam rangkaian pernikahan Hasri dan Asmita mencapai Rp250 juta.

Tradisi Saro-Saro di pihak perempuan sempat dihentikan sejenak pada malam hari karena bertepatan dengan suasana duka atas meninggalnya salah satu warga, namun semangat kebersamaan masyarakat tetap tinggi.

Sementara di pihak laki-laki, acara Antar Mohoka—upacara adat Togale yang melambangkan penyambutan dan penghormatan keluarga besar mempelai pria terhadap mempelai wanita—berlangsung khidmat dan meriah, diakhiri dengan tradisi Saro-Saro yang kembali mencatat hasil besar.

Dalam keterangan , Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba kepada keluarga mempelai pria maupun wanita usai kegiatan kepada wartawan Bupati Halsel yang akrab di sapa Bassam Kasuba memberikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Desa Sabatang dan seluruh warga Bacan Timur yang masih menjaga kekuatan nilai-nilai adat dan gotong royong melalui tradisi Saro-Saro.

“Tradisi Saro-Saro adalah warisan leluhur yang sarat makna sosial dan kebersamaan. Apa yang dilakukan masyarakat Sabatang hari ini bukan hanya pesta pernikahan, tetapi juga catatan bersejarah bagi masyarakat Halmahera Selatan, bahwa budaya kita masih hidup dan terus berkembang,” tutur Bassam Kasuba.

Bassam juga berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, agar semangat saling membantu dan persaudaraan tetap menjadi identitas kuat masyarakat Halsel.

“Mari kita terus jaga adat dan budaya kita sebagai jati diri Halsel yang kaya dan berkarakter,” pesan Bupati Bassam kasuba dalam keterangannya.

Tradisi Saro-Saro dalam pernikahan Hasri dan Asmita kini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Halmahera Selatan. (Bur)

LABUHA, Malutline – Tradisi Saro-Saro, warisan budaya gotong royong khas Halmahera Selatan, kembali mencatat sejarah luar biasa. Dalam pesta pernikahan pasangan Hasri U. Umar dan Asmita Anwar di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, kegiatan Saro-Saro berhasil menembus total pendapatan dari tradisi warga Halsel hingga mencapai Rp250 juta, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang sejarah tradisi Saro-Saro di Halsel.

Acara pernikahan yang digelar pada Minggu, 9 November 2025, di hibul oleh artis loela Drakel dan turut dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, di rumah mempelai wanita. Kehadiran Bupati Bassam Kasuba menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan tradisi lokal yang hingga kini masih hidup kuat di tengah masyarakat.

Keterangan dari paman mempelai wanita, M. Abubakar Malayu, yang akrab disapa Mul dan juga menjabat sebagai Kepala Desa Kaireu kecamatan Bacan timur kabupaten Halmahera Selatan, menjelaskan rincian hasil tradisi Saro-Saro yang fantastis tersebut.

“Untuk Saro-Saro siang di pihak perempuan mencapai Rp157 juta, sementara malam harinya terkumpul lagi Rp43 juta. Sedangkan di pihak laki-laki, setelah acara adat Antar Mohoka, dilanjutkan dengan Saro-Saro yang menghasilkan Rp75 juta,” ujar Mul kepada wartawan.

Dengan demikian, total keseluruhan hasil Saro-Saro dalam rangkaian pernikahan Hasri dan Asmita mencapai Rp250 juta.

Tradisi Saro-Saro di pihak perempuan sempat dihentikan sejenak pada malam hari karena bertepatan dengan suasana duka atas meninggalnya salah satu warga, namun semangat kebersamaan masyarakat tetap tinggi.

Sementara di pihak laki-laki, acara Antar Mohoka upacara adat Togale yang melambangkan penyambutan dan penghormatan keluarga besar mempelai pria terhadap mempelai wanita—berlangsung khidmat dan meriah, diakhiri dengan tradisi Saro-Saro yang kembali mencatat hasil besar.

Dalam keterangan , Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba kepada keluarga mempelai pria maupun wanita usai kegiatan kepada wartawan Bupati Halsel yang akrab di sapa Bassam Kasuba memberikan apresiasi tinggi terhadap masyarakat Desa Sabatang dan seluruh warga Bacan Timur yang masih menjaga kekuatan nilai-nilai adat dan gotong royong melalui tradisi Saro-Saro.

“Tradisi Saro-Saro adalah warisan leluhur yang sarat makna sosial dan kebersamaan. Apa yang dilakukan masyarakat Sabatang hari ini bukan hanya pesta pernikahan, tetapi juga catatan bersejarah bagi masyarakat Halmahera Selatan, bahwa budaya kita masih hidup dan terus berkembang,” tutur Bassam Kasuba.

Bassam juga berharap tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, agar semangat saling membantu dan persaudaraan tetap menjadi identitas kuat masyarakat Halsel.

“Mari kita terus jaga adat dan budaya kita sebagai jati diri Halsel yang kaya dan berkarakter,” pesan Bupati Bassam kasuba dalam keterangannya.

Tradisi Saro-Saro dalam pernikahan Hasri dan Asmita kini bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Halmahera Selatan. (Bur)

LABUHA, Malutline – Kinerja Bendahara Kecamatan Kayoa Selatan, Farida Rahkumbang, kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, Farida dilaporkan sudah lebih dari satu tahun tidak aktif berkantor di Kantor Camat Kayoa Selatan, melainkan beraktivitas di Desa Sayong.

Sejumlah warga menilai tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) yang serius, karena tidak melaksanakan tugas di tempat kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sudah lebih dari satu tahun bendahara tidak pernah masuk kantor camat, padahal tetap menerima gaji. Ini jelas melanggar disiplin ASN dan seharusnya bisa dikenai sanksi berat, bahkan sampai pemberhentian tidak dengan hormat,” ujar salah satu warga, Rabu (12/11/2025).

Selain soal kedisiplinan, warga juga menyoroti belum dibayarkannya gaji honorer (PTT) selama empat bulan terakhir. Para pegawai PTT mengaku sudah berulang kali mempertanyakan hak mereka, namun belum ada kejelasan dari pihak kecamatan.

“Kami sudah beberapa kali menanyakan soal honor empat bulan yang belum dibayar, tapi jawabannya selalu belum ada dana. Padahal dana operasional kecamatan seharusnya tersedia,” ungkap salah satu pegawai PTT yang enggan disebutkan namanya.

Masyarakat berharap Bupati Halmahera Selatan segera melakukan evaluasi terhadap kinerja aparatur di Kecamatan Kayoa Selatan dan memberikan sanksi tegas kepada oknum ASN yang tidak disiplin serta memperhatikan hak-hak tenaga honorer.

Hingga berita ini diterbitkan, Camat Kayoa Selatan, Nasarudin Tuanani, belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan pelanggaran disiplin ASN oleh bendahara Farida Rahkumbang maupun keterlambatan pembayaran honor PTT di wilayahnya. (Red)