HALSEL, Malutline, Pelayanan air bersih di wilayah Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara mengalami gangguan sementara akibat pekerjaan darurat (emergency) yang tengah dilakukan oleh pihak PDAM Halsel, Sabtu (28/03/2026).

Direktur PDAM Halsel, Soleman Bobote, melalui pesan WhatsApp yang diterima media ini, menyampaikan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh kerusakan pada komponen MCCB (Molded Case Circuit Breaker) yang berdampak langsung pada sistem operasional mesin.

“Terjadi kerusakan pada MCCB sehingga mesin tidak dapat melakukan proses sinkronisasi. Untuk itu, kami harus segera melakukan penanganan darurat agar pelayanan dapat kembali normal,” ungkap Soleman.

Pekerjaan perbaikan dijadwalkan berlangsung pada hari ini, Sabtu, 28 Maret 2026, mulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIT. Selama proses tersebut, seluruh desa di wilayah Kayoa akan mengalami pemadaman sementara.

Akibat gangguan ini, distribusi air bersih ke pelanggan terpaksa dihentikan sementara waktu. PDAM Halsel mengimbau kepada seluruh masyarakat terdampak untuk dapat memahami situasi tersebut dan melakukan langkah antisipasi, seperti menampung air sebelum waktu pekerjaan dimulai.

Soleman juga menegaskan bahwa langkah penanganan cepat ini merupakan bentuk komitmen PDAM dalam menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat, meskipun harus dilakukan penghentian sementara.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ini merupakan langkah teknis yang harus dilakukan demi menjaga stabilitas sistem ke depannya,” tambahnya.

Masyarakat diharapkan tetap tenang dan bersabar selama proses perbaikan berlangsung. PDAM Halsel memastikan bahwa setelah pekerjaan selesai, sistem akan kembali dioperasikan secara normal dan pelayanan air bersih dapat berjalan seperti biasa.

Hingga berita ini diturunkan, proses penanganan masih berlangsung sesuai jadwal yang telah ditentukan. PDAM Halsel juga membuka ruang komunikasi bagi pelanggan yang membutuhkan informasi lebih lanjut terkait gangguan tersebut.

Dengan adanya perbaikan ini, diharapkan ke depan tidak lagi terjadi gangguan serupa yang dapat menghambat pelayanan kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kayoa dan sekitarnya. (Red)

HALSEL, Malutline— Gangguan pelayanan air bersih yang terjadi di wilayah Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, akibat kerusakan MCCB (Molded Case Circuit Breaker), langsung mendapat perhatian serius dari pihak PDAM Halsel.

Direktur PDAM Halsel, Soleman Bobote, bahkan turun langsung ke lokasi untuk memastikan seluruh proses pekerjaan darurat berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Kehadirannya di lapangan menjadi bentuk komitmen dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih.

Dalam keterangannya, Soleman menyampaikan bahwa kerusakan pada MCCB menyebabkan mesin tidak dapat melakukan proses sinkronisasi, sehingga distribusi air terpaksa dihentikan sementara selama proses perbaikan berlangsung.

“Ini penanganan yang harus segera dilakukan. Saya turun langsung untuk memastikan pekerjaan berjalan lancar, agar pelayanan air bersih bisa cepat kembali normal dan masyarakat tidak terlalu lama terdampak,” ujarnya.

Pekerjaan darurat ini dilaksanakan pada Sabtu, 28 Maret 2026, mulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIT, dengan dampak pemadaman yang mencakup seluruh desa di wilayah Kayoa.

Meski berlangsung dalam waktu terbatas, gangguan tersebut sempat mempengaruhi distribusi air bersih kepada pelanggan. Namun demikian, PDAM Halsel terus berupaya melakukan percepatan penanganan agar pelayanan dapat segera pulih.

Soleman juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memahami kondisi yang terjadi, seraya menegaskan bahwa langkah cepat ini dilakukan demi menjaga kestabilan sistem ke depan.

“Kami mohon pengertian masyarakat. Ini demi memastikan pelayanan air bersih bisa lebih maksimal dan tidak mengalami gangguan berulang,” tambahnya.

Dengan pengawasan langsung dari pimpinan, diharapkan proses perbaikan berjalan optimal dan distribusi air bersih di wilayah Kayoa dapat kembali normal dalam waktu yang telah ditentukan. (Red)

TERNATE, Malutline– Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti prosesi pernikahan pasangan Mariyani Azis Pora dan Sofyan Amir yang telah berlangsung dengan penuh khidmat pada Sabtu, 28 Maret 2026. Acara sakral tersebut menjadi momentum bersejarah yang menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan suci pernikahan.

Sejak pagi hari, prosesi akad nikah dilangsungkan dengan lancar di kediaman mempelai wanita yang berlokasi di Kelurahan Tobololo, tepatnya di Jalan Baru, belakang Kantor BMKG. Dengan disaksikan keluarga, kerabat, serta para undangan, ijab kabul berlangsung dengan penuh kekhusyukan, menandai sahnya kedua mempelai sebagai suami istri.

Tangis haru tak dapat terbendung dari keluarga kedua belah pihak, terutama saat doa-doa dipanjatkan untuk keberkahan rumah tangga yang baru dibangun. Kehangatan dan rasa syukur begitu terasa, mencerminkan kebahagiaan yang mendalam atas bersatunya dua insan dalam ikatan yang diridhai.

Usai prosesi akad nikah, acara dilanjutkan dengan jamuan makan siang yang dihadiri oleh para tamu undangan. Suasana keakraban tampak jelas, di mana para tamu saling berbincang, memberikan doa restu, serta ucapan selamat kepada kedua mempelai. Kehadiran keluarga besar dari kedua pihak semakin menambah semarak suasana kebersamaan.

Pada malam harinya, resepsi pernikahan digelar dengan meriah. Dekorasi yang elegan serta nuansa yang hangat menambah keindahan acara. Kedua mempelai tampil anggun dan gagah, menyambut para tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Resepsi tersebut menjadi puncak perayaan yang penuh suka cita, sekaligus ajang silaturahmi bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat sekitar.

Keluarga besar mempelai wanita, almarhum Bapak Azis Pora dan almarhumah Ibu Habibah Salim, serta keluarga mempelai pria, Bapak Amir Muha dan Ibu Diko Hi. Ambong, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan doa restu.

“Semoga pernikahan ini menjadi awal yang baik bagi kedua mempelai dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” ujar salah satu perwakilan keluarga.

Pernikahan ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebahagiaan yang dirasakan bersama oleh keluarga dan para undangan.

Harapan besar pun disematkan agar Mariyani dan Sofyan senantiasa diberikan kebahagiaan, keberkahan, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan berumah tangga ke depan.

Dengan telah berlangsungnya seluruh rangkaian acara, pernikahan ini meninggalkan kesan mendalam dan menjadi kenangan indah yang akan terus dikenang sepanjang masa. (Red)

TERNATE, Malutline– Kekecewaan mulai disuarakan warga Pulau Moti terhadap Pemerintah Kota Ternate. Mereka menilai pembangunan yang selama ini berjalan terkesan lebih terfokus di Pulau Ternate, sementara wilayah kepulauan seperti Moti masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, terutama terkait infrastruktur.

Keluhan utama warga mencuat pada kondisi jembatan dan jalan yang dinilai rusak parah dan belum mendapatkan penanganan serius. Padahal, akses tersebut menjadi urat nadi aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari mobilitas warga, distribusi barang, hingga akses layanan dasar.

“Pak Wali Kota harus ingat, Pemerintah Kota Ternate bukan hanya Pulau Ternate saja. Kami di Pulau Moti juga bagian dari Ternate. Tapi kenyataannya, jembatan rusak dan jalan hancur seperti tidak pernah dilihat,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.

Menurut warga, kondisi jembatan yang mengalami kerusakan cukup serius sangat membahayakan keselamatan pengguna.

Sementara itu, jalan-jalan yang berlubang dan sulit dilalui kerap menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi petani dan nelayan yang bergantung pada kelancaran akses transportasi.

Mereka berharap adanya perhatian serius dan langkah nyata dari pemerintah kota untuk segera melakukan perbaikan.

Warga juga menilai, pemerataan pembangunan harus menjadi prioritas, agar tidak terjadi kesenjangan antara wilayah pusat kota dan daerah kepulauan.
“Kami tidak menuntut lebih, hanya ingin diperlakukan adil. Infrastruktur yang layak itu kebutuhan dasar, bukan kemewahan,” tambah warga lainnya.

Selain itu, masyarakat Pulau Moti juga meminta pemerintah untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan, agar dapat memahami secara nyata kesulitan yang dihadapi warga. Mereka berharap aspirasi ini tidak hanya menjadi keluhan semata, tetapi benar-benar ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Ternate terkait keluhan warga Pulau Moti tersebut. Namun, tekanan publik diperkirakan akan terus menguat jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perhatian.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkeadilan harus menjangkau seluruh wilayah tanpa terkecuali. Pulau Moti, sebagai bagian dari Kota Ternate, berharap tidak lagi menjadi daerah yang terpinggirkan dalam agenda pembangunan.

Warga pun menaruh harapan besar agar Pemerintah Kota Ternate, di bawah kepemimpinan wali kota, dapat segera mengambil langkah cepat dan tepat demi memperbaiki infrastruktur yang rusak, serta memastikan kesejahteraan masyarakat kepulauan turut menjadi prioritas. (Red)

TERNATE, Malutline– Di tengah sorotan terkait keterlambatan proses pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Ternate, Maluku Utara, dukungan moril dari masyarakat justru terus mengalir kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly.

Situasi ini menjadi perhatian publik, terutama bagi para ASN yang menantikan pencairan THR menjelang hari raya. Meski demikian, sebagian warga tetap menunjukkan empati dan kepercayaan terhadap kinerja pemerintah daerah, khususnya kepada sosok Sekda yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat.

“Memang ada keterlambatan, tapi kami percaya ini bukan karena unsur kesengajaan. Pak Sekda selama ini dikenal amanah, jujur, dan bijaksana. Doa kami tetap untuk beliau agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan,” ujar salah satu warga Ternate.

Rizal Marsaoly dinilai sebagai figur birokrat yang memiliki komitmen kuat terhadap pelayanan publik. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal aktif membangun komunikasi dengan masyarakat serta berupaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah daerah.

Keterlambatan pembayaran THR sendiri disebut-sebut berkaitan dengan proses administrasi dan teknis yang masih berjalan. Meski belum ada penjelasan resmi secara rinci, masyarakat berharap agar pemerintah segera memberikan kepastian demi menghindari keresahan di kalangan ASN.

Di sisi lain, dukungan yang terus mengalir dari warga menjadi sinyal bahwa kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Sekda masih cukup kuat. Nilai-nilai sosial, kejujuran, dan sikap bijaksana yang selama ini ditunjukkan menjadi alasan utama masyarakat tetap memberikan doa dan harapan.

“Semoga persoalan ini cepat terselesaikan dan hak ASN bisa segera dibayarkan. Kami juga mendoakan Pak Sekda selalu sehat dan tetap kuat menjalankan amanah,” tambah warga lainnya.

Kondisi ini menjadi ujian tersendiri bagi Pemerintah Kota Ternate dalam menjaga kepercayaan publik, sekaligus memastikan hak-hak ASN dapat dipenuhi tepat waktu. Masyarakat pun berharap adanya langkah cepat dan transparansi dari pihak terkait agar polemik ini tidak berlarut-larut.

Di tengah dinamika tersebut, doa dan harapan masyarakat menjadi penguat bagi Sekda Kota Ternate untuk terus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, serta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal. (Red)