HALUT, Malutline- Potensi kelapa yang melimpah di Maluku Utara tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga menyisakan limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat kondisi tersebut, *Coco Manise* mengembangkan berbagai produk berbasis limbah kelapa sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus mendukung ekonomi berkelanjutan. Pengembangan inovasi tersebut mendapat pendampingan dari Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Khairun.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Laela, S.E., M.M. sebagai ketua tim, dengan anggota Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si., Dudi Amirullah, S.E., M.SM., Dr. Yolanda Mohungo, S.E., M.Si., dan Zandy Pratama Zain, S.E., M.Si.
Pendampingan dilakukan sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi komoditas kelapa melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Selain berorientasi pada pengurangan limbah, inovasi ini juga diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat dan memperkuat daya saing UMKM berbasis potensi lokal.
Ketua Tim PKM FEB Universitas Khairun mengatakan, Maluku Utara merupakan salah satu daerah penghasil kelapa yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, pemanfaatan limbah hasil pengolahan, seperti sabut dan tempurung kelapa, masih tergolong rendah sehingga peluang ekonominya belum dimaksimalkan.
*”Limbah kelapa bukan hanya menjadi sisa hasil produksi, tetapi memiliki potensi ekonomi yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat,”* ujarnya.
Melalui pendampingan tersebut, Tim PKM memberikan edukasi mengenai pengembangan produk berbasis limbah kelapa, pengelolaan usaha, strategi pemasaran, serta penguatan kapasitas pelaku UMKM. Materi yang diberikan diharapkan mampu membantu Coco Manise mengembangkan usaha secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif mengenai peluang pengembangan produk, tantangan pemasaran, serta strategi meningkatkan nilai jual hasil olahan kelapa. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai inovasi produk dan prospek pasar di masa mendatang.
Tim PKM menilai bahwa hilirisasi komoditas kelapa tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan mengolah seluruh bagian kelapa agar memiliki nilai tambah. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan sistem usaha yang lebih efisien, mengurangi limbah, sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat.
Coco Manise diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang mengedepankan inovasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat. Pendampingan ini juga menjadi wujud komitmen Universitas Khairun dalam mendukung penguatan ekonomi daerah melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal. (Red)












Komentar