LABUHA, Malutline.com- Di balik gemuruh tepuk tangan dan lantunan lagu kebersamaan dalam pengukuhan pengurus sementara Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA-TOGALE) di Desa Tembal, Sabtu (8/11/2025), ada satu momen yang tak kalah berkesan, apresiasi hangat dari Dr. Hi. Muhammad Kasuba, M.A. kepada wartawan IKA-TOGALE.
Pena yang Menyala dari Rumah Sendiri Dalam sambutan yang sarat makna, DR. Muhamad Kasuba. MA, mantan Bupati Halmahera Selatan dua periode itu menyampaikan penghargaan mendalam kepada para jurnalis dari komunitas Tobelo-Galela yang selama ini aktif menyebarkan informasi positif, menjaga semangat budaya, dan mengabarkan pembangunan daerah dengan cara yang beretika dan berimbang.
“Saya bangga dengan wartawan IKA-TOGALE, Mereka menulis dengan hati, bukan hanya dengan pena, Mereka bukan sekadar pembawa berita, tapi penjaga marwah kebersamaan kita,” ucap DR. Muhamad Kasuba dengan nada penuh penghargaan.
Menurutnya, dalam dunia yang semakin cepat bergerak oleh arus digital, wartawan memiliki tanggung jawab moral yang besar, tidak hanya mengabarkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial dan budaya dalam setiap tulisan.
“Mereka adalah bagian dari kekuatan kita. Pena mereka tidak hanya menulis kabar, tapi juga menulis persaudaraan,” tambahnya, Menulis untuk Mengikat, Bukan Memisahkan
Bagi DR. Hi. Muhamad Kasuba, wartawan IKA-TOGALE adalah wajah lain dari komunitas yang tangguh, mereka bekerja dalam sunyi, tapi karyanya mengikat banyak hati, Mereka menjadi jembatan antara warga dan pemerintah, antara masa lalu dan masa depan.
Ia menilai, peran jurnalis yang lahir dari keluarga besar Togale memiliki nilai lebih. Mereka menulis dengan pemahaman budaya yang dalam, dengan rasa memiliki yang kuat terhadap tanah dan masyarakatnya.
“Saya tahu betul bagaimana mereka bekerja, diam tapi berdampak, sederhana tapi berarti Mereka menjaga agar semangat Tobelo-Galela tetap menyala di ruang publik,” tutur DR Muhamad Kasuba MA, sapaan akrab MK.
Dikatakannya Poma Polu dalam Dunia Jurnalistik, Dalam konteks Poma Polu, yang berarti berkumpul dalam satu ikatan rasa dan satu tujuan, pena para wartawan IKA-TOGALE menjadi simbol dari semangat itu sendiri, Tulisan mereka tidak hanya mengabarkan kegiatan organisasi, tapi juga menjadi perekat sosial di tengah perbedaan suku, agama, dan pandangan hidup di Halmahera Selatan.
“Melalui tulisan, mereka membangun harmoni. Itu yang membedakan jurnalis IKA-TOGALE, menulis bukan untuk membelah, tapi menyatukan,” ucap Dr. Kasuba di hadapan ratusan anggota keluarga besar Togale.
Cahaya dari Ruang Redaksi, Apresiasi ini menjadi pengakuan moral bagi wartawan IKA-TOGALE yang tersebar di berbagai media, baik lokal maupun nasional, Mereka dikenal kritis namun santun, tajam namun tetap mengedepankan etika jurnalistik Dalam setiap berita, terselip semangat Poma Polu — semangat untuk terus bersama dan berbuat bagi sesama.
Bagi banyak hadirin, ucapan DR. Muhamad Kasuba sore itu seperti obor kecil yang menyalakan kebanggaan baru,
Wartawan IKA-TOGALE tidak lagi sekadar “orang media”, tetapi menjadi penjaga nilai dan narasi kebersamaan di tengah derasnya arus informasi yang sering memecah.
“Saya percaya, selama masih ada wartawan yang menulis dengan cinta, persaudaraan kita tak akan pernah padam,” tutup DR. Muhamad Kasuba dengan suara bergetar.
Menulis Adalah Bentuk Cinta
Malam itu, di bawah lampu yang menggantung di halaman UMK Milenial, tepuk tangan bergema panjang.
Di antara kerumunan, beberapa jurnalis dari keluarga Togale saling berpelukan — bangga, haru, dan mungkin sedikit terkejut, karena tak menyangka bahwa kerja mereka yang sunyi ternyata begitu dihargai.
Apresiasi itu bukan sekadar pujian, tapi pengakuan bahwa menulis juga adalah bentuk cinta — cinta pada budaya, pada tanah air, dan pada manusia yang hidup di dalamnya dan bagi Dr. Muhammad Kasuba, itulah pena dari dalam rumah — pena yang tidak hanya menulis tentang Tobelo-Galela, tapi juga menulis dengan jiwa Tobelo-Galela.(Adv.Bur)







Komentar