oleh

Bukan Sekadar Soal Fasilitas, Keluarga Pasien Soroti Tanggung Jawab Pelayanan UGD Rumah Sakit di Ternate

-Ternate-59 views

TERNATE, MALUTLINE.COM — Keluhan keluarga pasien terhadap pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) salah satu rumah sakit umum di Kota Ternate, Maluku Utara, kembali menjadi sorotan. Persoalan yang dikeluhkan keluarga pasien dinilai bukan semata-mata mengenai keterbatasan fasilitas, melainkan menyangkut tanggung jawab rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang layak kepada pasien.

Keluarga pasien mempertanyakan kondisi yang dialami orang tua mereka saat datang untuk mendapatkan perawatan. Pasien yang seharusnya memperoleh penanganan dan tempat istirahat yang layak justru disebut harus menempati tempat tidur darurat yang kondisinya dinilai tidak manusiawi.

Menurut keluarga, alasan keterbatasan fasilitas tidak seharusnya menjadi pembenaran apabila rumah sakit memang memiliki keterbatasan kapasitas. Sebab, rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan semestinya telah memiliki perencanaan dan mekanisme untuk memastikan pasien tetap mendapatkan pelayanan yang aman dan layak.

“Ini bukan hanya bicara soal fasilitas, tetapi tanggung jawab. Kalau memang fasilitas sedikit, pertanyaannya kenapa fasilitas yang memadai tidak disediakan? Ini orang tua kami datang untuk berobat, bukan datang untuk mengungsi,” keluh keluarga pasien.

Keluarga bahkan menggambarkan kondisi tersebut seperti pasien yang sedang berada di lokasi bencana dan harus bertahan di tempat pengungsian sementara.

“Orang tua kami datang dalam kondisi sakit dan membutuhkan perawatan. Tetapi kalau kemudian disuruh tidur seperti itu, rasanya sama saja seperti orang yang sedang mengungsi di tenda darurat. Ini rumah sakit besar, bagaimana mungkin fasilitas untuk pasien sampai seperti itu?” ujarnya.

Pasien Datang untuk Berobat, Bukan Mengungsi

Keluarga pasien menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pihak manajemen rumah sakit. Menurut mereka, masyarakat datang ke rumah sakit karena mempercayakan keselamatan dan kondisi kesehatan keluarganya kepada tenaga medis dan institusi pelayanan kesehatan.

Karena itu, ketika pasien justru mendapatkan kondisi tempat istirahat yang dinilai tidak layak, keluarga merasa kecewa dan mempertanyakan bentuk tanggung jawab rumah sakit.

Mereka pun mengajukan pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana jika orang tua atau keluarga dari pihak manajemen rumah sakit sendiri yang berada dalam kondisi sakit dan harus mendapatkan perawatan dengan kondisi serupa?

“Coba kalau yang berada di posisi kami adalah orang tua mereka sendiri. Kalau orang tua mereka sakit, apakah tega diberikan tempat tidur seperti itu? Kami juga punya orang tua. Ketika mereka sakit, yang kami harapkan tentu mendapatkan pelayanan terbaik, bukan malah seperti sedang berada di tempat pengungsian,” tegasnya.

Rumah Sakit Besar, Alasan Keterbatasan Fasilitas Dipertanyakan

Keluarga pasien juga mempertanyakan alasan keterbatasan fasilitas apabila kondisi tersebut memang terjadi karena kekurangan tempat tidur.

Menurut mereka, rumah sakit dengan kapasitas pelayanan yang besar seharusnya mampu mengantisipasi kebutuhan pasien, khususnya di ruang UGD yang menjadi salah satu bagian vital dalam pelayanan kesehatan.

Keluarga tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap pasien yang datang untuk mendapatkan pertolongan medis diperlakukan secara manusiawi, aman dan bermartabat.

“Kami tidak meminta orang tua kami diperlakukan berbeda dari pasien lain. Kami hanya meminta hak dasar sebagai pasien. Kalau sakit, tentu butuh tempat yang layak untuk beristirahat dan mendapatkan perawatan. Jangan sampai pasien datang mencari pertolongan, tetapi justru merasa seperti sedang mengungsi,” ungkapnya.

Manajemen Diminta Tidak Anggap Keluhan Sebagai Persoalan Sepele

Keluarga berharap keluhan tersebut tidak dianggap sebagai persoalan kecil. Sebaliknya, mereka meminta manajemen rumah sakit melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan UGD, termasuk ketersediaan tempat tidur, penanganan pasien, serta tanggung jawab petugas terhadap kondisi pasien selama berada di ruang pelayanan.

Mereka juga meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kondisi yang dialami pasien tersebut dan langkah apa yang akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Sebab, bagi keluarga pasien, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang tindakan medis, tetapi juga bagaimana pasien diperlakukan sejak pertama kali datang hingga mendapatkan perawatan.

> “Pasien datang membawa harapan untuk sembuh. Jangan sampai ketika mereka datang dalam kondisi sakit, justru harus merasakan pelayanan yang membuat keluarga semakin kecewa. Rumah sakit harus menjadi tempat orang mencari pertolongan, bukan tempat pasien merasa seperti sedang berada di pengungsian,” tutup keluarga pasien.

Keluhan ini sekaligus menjadi catatan bagi pihak rumah sakit dan pemerintah daerah untuk memastikan pelayanan kesehatan benar-benar berorientasi pada keselamatan, kenyamanan, martabat dan hak pasien. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed