oleh

PLN Obi Krisis Daya, Permintaan Mesin Sejak Tahun Lalu Belum Direalisasikan, Masyarakat Tagih Ketegasan UPT PLN Ternate

HALSEL, MALUTLINE – Krisis pasokan listrik di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, kini memasuki fase yang semakin memprihatinkan. Pemadaman bergilir hingga listrik padam mendadak hampir setiap hari bukan lagi dipandang sebagai gangguan teknis semata, melainkan menjadi indikator belum terselesaikannya persoalan pasokan daya yang telah berlangsung cukup lama.

Ironisnya, di tengah meningkatnya kebutuhan listrik masyarakat, Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Laiwui justru harus bertahan dengan kemampuan pembangkit yang jauh di bawah beban puncak. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai percepatan penanganan di tingkat pengambil kebijakan.

Data yang diperoleh Malutline menunjukkan daya mampu pembangkit ULP PLN Laiwui saat ini hanya sekitar 1.190 kW, sedangkan kebutuhan listrik masyarakat telah mencapai 1.670 kW. Dengan demikian terjadi defisit sekitar 480 kW, sehingga sistem kelistrikan berada dalam kondisi yang sangat terbatas.

Kepala ULP PLN Laiwui, Alfrizal Abdullah Sanjani, mengakui kondisi tersebut dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Pulau Obi. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah mengusulkan penambahan mesin pembangkit serta pengadaan mesin sewa darurat sejak tahun lalu, namun hingga kini belum juga terealisasi.

«”Selain kata maaf dan pengertian, tidak ada lagi yang bisa kami sampaikan,” ujarnya.»

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan yang dialami ULP PLN Laiwui bukan hanya disebabkan faktor teknis di lapangan, tetapi juga berkaitan dengan belum terealisasinya kebutuhan tambahan pembangkit yang telah diajukan.

Di sisi lain, kondisi mesin pembangkit yang beroperasi juga tidak berada dalam keadaan ideal. Beberapa unit seperti DAF#1, Perkins, Mitsubishi, dan Komatsu mengalami berbagai gangguan teknis. Sementara MTU#2 masih menjalani proses pemeliharaan.

Bahkan, untuk menjaga pasokan listrik tetap menyala, petugas terpaksa meminjam sejumlah komponen dari unit PLN lain. Gangguan yang dihadapi meliputi kerusakan modul Deep Sea, mechanical seal, hingga putaran mesin (RPM) yang tidak stabil.

Meski berada dalam keterbatasan, seluruh pembangkit tetap dipaksa beroperasi selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan beratnya beban yang dipikul petugas di lapangan demi menjaga sistem kelistrikan tetap berjalan.

Di tengah krisis yang belum kunjung berakhir, masyarakat Pulau Obi mulai mengarahkan perhatian kepada proses pengambilan keputusan di tingkat yang lebih tinggi. Warga menilai persoalan ini memerlukan langkah cepat dan nyata agar pemadaman tidak terus berulang.

Masyarakat mendesak agar UPT PLN Ternate segera memberikan kepastian terhadap usulan yang telah diajukan ULP PLN Laiwui, termasuk percepatan penambahan mesin pembangkit serta realisasi mesin sewa darurat untuk menutup kekurangan daya yang terjadi.

Menurut warga, penanganan yang berlarut-larut berpotensi menghambat aktivitas ekonomi, pelayanan publik, pendidikan, hingga usaha masyarakat yang sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.

Kini sorotan publik tertuju pada tindak lanjut dari pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Mengapa usulan penambahan mesin yang telah diajukan sejak tahun lalu hingga kini belum juga direalisasikan? Pertanyaan tersebut menjadi harapan masyarakat agar segera dijawab melalui langkah konkret, bukan sekadar proses administrasi yang berkepanjangan.

Menutup keterangannya, Kepala ULP PLN Laiwui menegaskan seluruh personel tetap bekerja maksimal meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Kami memohon maaf atas kondisi yang terjadi. Kami pastikan seluruh tim terus bekerja maksimal agar mesin kembali normal dan pelayanan kepada masyarakat dapat segera pulih,” tutup Alfrizal.» (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed