HALSEL, Malutline – Seorang warga di Kabupaten Halmahera Selatan menyampaikan keresahan mendalam terkait kondisi sosial generasi muda yang belakangan dinilai semakin memprihatinkan. Sorotan tersebut tertuju pada meningkatnya angka anak putus sekolah, pergaulan bebas di kalangan remaja, kehamilan di luar nikah, kasus aborsi, hingga maraknya praktik bullying dan cyberbullying yang terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Menurut warga tersebut, persoalan ini bukan lagi dianggap sebagai masalah pribadi atau keluarga semata, melainkan sudah menjadi persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah serta seluruh elemen masyarakat.
“Sekarang ini banyak sekali anak-anak di bawah umur yang putus sekolah. Setelah itu mereka terjebak dalam pergaulan yang salah, ada yang hamil di luar nikah, tidak sedikit juga yang akhirnya melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri seperti aborsi atau persoalan lain karena kurangnya pendampingan,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga sudah menyebar hingga desa-desa terpencil di Kabupaten Halmahera Selatan.
Karena itu, dirinya meminta pemerintah daerah melalui instansi terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, pihak kampus, organisasi kepemudaan, serta lembaga lain yang memiliki kewenangan agar dapat turun langsung memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, salah satu langkah konkret yang perlu dilakukan adalah menggelar seminar atau sosialisasi secara rutin tentang pentingnya pendidikan, kesehatan reproduksi, bahaya pergaulan bebas, serta pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dan remaja.
“Kalau bisa kegiatan seperti seminar dilakukan langsung di sekolah-sekolah. Bahkan lebih baik lagi jika menjangkau desa-desa supaya anak-anak di wilayah terpencil juga mendapatkan edukasi yang sama,” ujarnya.
Selain persoalan pendidikan dan pergaulan remaja, ia juga menyoroti meningkatnya fenomena bullying dan cyberbullying yang kini mulai menjadi ancaman serius, terutama di kalangan pelajar.
Bullying yang terjadi secara langsung di sekolah maupun serangan di media sosial dinilai sering dianggap sepele, padahal dampaknya dapat mempengaruhi kondisi mental, kepercayaan diri, hingga masa depan korban.
Untuk itu, ia berharap pemerintah bersama pihak sekolah, pondok pesantren, kelompok PKK, majelis taklim, dan organisasi perempuan dapat membangun ruang edukasi bersama melalui seminar khusus tentang pencegahan bullying dan cyberbullying agar kesadaran masyarakat semakin meningkat.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Generasi muda adalah masa depan daerah. Kalau sekarang kita tidak peduli, maka dampaknya akan kita rasakan bersama di masa mendatang,” tambahnya.
Harapan tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat mulai menaruh perhatian besar terhadap kondisi sosial generasi muda di daerah, dan menginginkan adanya langkah nyata yang lebih serius dari pemerintah dalam membangun karakter, pendidikan, serta perlindungan terhadap anak-anak dan remaja di Kabupaten Halmahera Selatan. (Red)











Komentar