oleh

Kesenian Ngibi, Warisan Budaya Desa Soligi yang Tetap Berdenyut di Tengah Pertumbuhan Halmahera Selatan

HALSEL, Malutline – Di tengah pesatnya perkembangan wilayah dan pertumbuhan industri di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, masyarakat Desa Soligi membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak budaya. Sebaliknya, di tengah perubahan zaman, warga setempat terus menjaga dan merawat warisan leluhur yang menjadi identitas mereka, salah satunya melalui Pagelaran Kesenian Ngibi yang digelar pada Senin (9/6/2026).

Suasana malam di halaman Kantor Desa Soligi tampak berbeda dari biasanya. Tabuhan gendang yang berpadu dengan dentingan gong mengalun merdu, memecah keheningan pesisir Pulau Obi. Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati arena pertunjukan untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka.

Momen tersebut terasa semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan semangat peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Halmahera Selatan. Di tengah perayaan daerah, masyarakat Soligi memilih merayakannya dengan cara yang sarat makna, yakni memperkuat identitas budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Pagelaran Kesenian Ngibi merupakan tradisi yang berasal dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara. Tradisi itu dibawa oleh para leluhur yang merantau dan menetap di wilayah Halmahera Selatan hingga akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Soligi.

Sebelum pertunjukan dimulai, suasana yang semula riuh mendadak hening. Imam desa memimpin doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang menyatu dalam tradisi tersebut. Prosesi itu menegaskan bahwa kesenian Ngibi bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang erat kaitannya dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.

Setelah doa dipanjatkan, tokoh adat memasuki arena dengan memperagakan gerakan pencak silat yang penuh wibawa. Hentakan langkah dan gerakan yang tegas seolah membuka jalan bagi berlangsungnya rangkaian pertunjukan yang sarat makna filosofis.

Pertunjukan diawali dengan Tari Cungka yang dibawakan oleh para penari perempuan. Tarian tersebut menggambarkan awal kehidupan manusia sejak berada dalam kandungan. Dari sana, cerita kehidupan kemudian berlanjut melalui Tari Ngibi yang dibawakan secara berpasangan oleh penari laki-laki dan perempuan.

Meski tampil berpasangan, terdapat aturan adat yang dijunjung tinggi dalam tarian tersebut. Penari laki-laki tidak diperkenankan menyentuh penari perempuan selama pertunjukan berlangsung. Nilai ini menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan sebagai sosok yang melahirkan, merawat, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Tokoh Adat Desa Soligi, Imam La Puasa, menjelaskan bahwa setiap gerakan dalam Tari Ngibi mengandung pesan moral yang mendalam. Menurutnya, kesenian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat nasihat kehidupan, sejarah perjalanan leluhur, serta identitas yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, tradisi ini harus terus dijaga agar anak cucu kita tidak melupakan asal-usul dan jati dirinya,” ungkap Imam La Puasa.

Ia menambahkan, pada masa lalu Tari Ngibi sering dipentaskan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah musim panen. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut kini hadir dalam berbagai momentum penting, termasuk perayaan hari besar keagamaan seperti Iduladha.

Usai menyaksikan rangkaian tarian yang sarat filosofi, masyarakat kembali disuguhkan dengan pertunjukan pencak silat yang diperagakan oleh anak-anak hingga remaja tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sorak-sorai warga terdengar memenuhi arena ketika para peserta menunjukkan kemampuan dan ketangkasan mereka.

Meski berlangsung dalam bentuk adu keterampilan, pencak silat yang dipertontonkan bukanlah ajang untuk mencari kemenangan semata. Pertunjukan tersebut menjadi simbol sportivitas, keberanian, kedisiplinan, serta semangat ksatria yang ditanamkan kepada generasi muda Desa Soligi.

Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya dari ancaman terkikis oleh perkembangan zaman.

“Kegiatan yang didukung Harita Nickel ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat. Mari kita terus mengenali, mencintai, dan melestarikan identitas budaya kita agar generasi muda tetap memahami akar budayanya,” ujarnya.

Menurut Madaisi, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama. Sebab di tengah derasnya arus modernisasi, generasi muda membutuhkan ruang untuk mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Pagelaran budaya tersebut juga mendapat dukungan dari Harita Nickel sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian kearifan lokal di wilayah operasionalnya.

Community Relations Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menegaskan bahwa budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dijaga bersama.

“Bagi kami, budaya lokal adalah bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga bersama. Tari Ngibi bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga warisan nilai, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Soligi. Karena itu, perusahaan ingin turut mendukung agar tradisi ini tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda,” kata Wigit.

Dukungan terhadap kegiatan budaya seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan. Kehadiran industri tidak harus menjadi ancaman bagi budaya lokal, melainkan dapat menjadi mitra dalam menjaga keberlanjutan warisan leluhur.

Di tengah laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus bergerak di Halmahera Selatan, masyarakat Desa Soligi memberikan contoh bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat.

Malam semakin larut, namun semangat warga tidak surut. Tabuhan gong masih terdengar mengiringi langkah para penari dan pesilat muda yang bergantian tampil di hadapan masyarakat. Di bawah cahaya lampu sederhana, mereka tidak sekadar mempertunjukkan seni, tetapi sedang merawat sejarah, menjaga identitas, dan memastikan bahwa warisan budaya Ngibi akan terus hidup dari generasi ke generasi.

Di tangan generasi muda Soligi, tradisi itu tetap berdenyut, menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya adalah kekuatan yang menjaga jati diri masyarakat Halmahera Selatan. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed