HALSEL, Malutline— Suasana duka yang seharusnya dilalui dengan tenang justru berubah menjadi kekecewaan mendalam bagi sebuah keluarga di Halmahera Selatan. Keluarga almarhum menyampaikan keluhan keras terhadap pelayanan KM Obi Permai, yang diduga meminta pembayaran tiket jenazah sebesar Rp500 ribu saat proses pengangkutan jenazah.
Keluhan tersebut disampaikan melalui surat duka yang beredar di masyarakat dan media sosial. Dalam surat tersebut, keluarga menyatakan ketidakpuasan atas pelayanan yang diberikan oleh anak buah kapal (ABK) KM Obi Permai, yang dinilai tidak menunjukkan empati di tengah suasana duka.
Salah satu anggota keluarga, Niken, turut menyampaikan komentarnya dan membenarkan kejadian tersebut. Ia mengaku sangat terpukul dengan perlakuan yang diterima keluarganya saat mengurus pemulangan jenazah.
“Di saat kami sedang berduka, kami justru diminta membayar tiket jenazah sebesar Rp500 ribu. Ini sangat menyakitkan bagi kami sebagai keluarga. Seharusnya ada rasa kemanusiaan,” ungkap Niken, mewakili keluarga almarhum.
Menurut Niken, permintaan pembayaran tersebut tidak hanya membebani secara ekonomi, tetapi juga menambah tekanan psikologis bagi keluarga yang sedang berduka. Ia menilai, pelayanan transportasi laut semestinya mengedepankan empati dan kebijakan kemanusiaan, terutama dalam situasi pengangkutan jenazah.
Keluarga juga mempertanyakan dasar aturan dan kebijakan penarikan biaya tersebut. Hingga kini, menurut mereka, tidak ada penjelasan resmi yang disampaikan oleh pihak kapal mengenai alasan penarikan tiket jenazah tersebut.
Atas kejadian ini, keluarga duka secara terbuka meminta Dinas Perhubungan Laut dan Darat untuk segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Mereka mendesak agar instansi terkait melakukan klarifikasi, evaluasi, serta pengawasan terhadap pelayanan KM Obi Permai, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Kami tidak ingin keluarga lain mengalami hal yang sama seperti yang kami alami. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tambah Niken.
Kasus ini pun menuai perhatian masyarakat luas. Sejumlah warga menilai, jika benar terjadi, maka praktik tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap pelayanan transportasi laut di wilayah kepulauan, yang sejatinya menjadi urat nadi mobilitas masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen KM Obi Permai belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan penarikan biaya tiket jenazah tersebut. Media masih berupaya menghubungi pihak kapal maupun Dinas Perhubungan untuk memperoleh klarifikasi dan tanggapan resmi.
Keluarga berharap, kejadian ini menjadi evaluasi menyeluruh bagi penyelenggara transportasi laut agar ke depan lebih mengedepankan nilai kemanusiaan, etika pelayanan, dan tanggung jawab sosial, terutama dalam situasi duka yang dialami masyarakat. (Haji/red)












Komentar