LABUHA, Malutline–Suasana kunjungan wartawan ke lokasi tambang dan kawasan relokasi Desa Kawasi, Obi, Halmahera Selatan, berlangsung hangat. Bukan hanya sekadar liputan biasa, momen ini sekaligus menjadi ruang dialog antara media dengan Harita Nickel yang dinilai semakin terbuka dalam menyampaikan aktivitas perusahaan.
Pimpinan Redaksi Malutline, Asbur Abu, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan tersebut. “Sebagai wartawan, kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak Harita Nickel di Obi yang telah membuka diri dan menunjukkan transparansi kepada publik. Undangan untuk memantau langsung aktivitas perusahaan menjadi bukti nyata bahwa Harita tidak menutup diri, melainkan transparan terhadap masyarakat melalui media,” ujarnya.
Menurut Asbur, langkah ini penting agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar, berimbang, dan langsung dari lapangan. “Dengan keterbukaan seperti ini, kami bisa menyampaikan berita apa adanya. Masyarakat Obi khususnya, dan Halmahera Selatan umumnya, dapat melihat bagaimana perusahaan bekerja sekaligus berinteraksi dengan warga lingkar tambang,” tambahnya.

Respons Harita Nickel
Pihak Harita Nickel menyambut baik apresiasi tersebut. Bayu, perwakilan perusahaan, menegaskan bahwa Harita selalu berusaha membangun hubungan sehat dengan media. “Kami akan lebih terbuka dalam berkomunikasi. Harita Nickel tidak hanya bekerja untuk kepentingan perusahaan, tetapi juga memastikan manfaat langsung dirasakan masyarakat Halmahera Selatan. Bahkan, 70 persen pesan CSR kami tersampaikan melalui media,” jelasnya.
Sementara itu, Josep, perwakilan lainnya, menekankan keseriusan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Ia menepis isu miring soal pembuangan limbah ke laut. “Itu tidak benar. Investasi sebesar ini tidak mungkin dikelola asal-asalan. Kami sudah diwajibkan membuang limbah hanya pada titik yang ditentukan aturan. Kalau tidak patuh, sama saja bunuh diri. Jadi tidak mungkin kami main-main dengan lingkungan,” tegasnya.
Menurut Josep, Harita Nickel memiliki pola ketat dalam pemantauan lingkungan melalui dokumen SLO (Surat Laik Operasi). “Kami wajib lapor, jadi tidak mungkin limbah masuk ke badan air. Isu ikan mati di laut Kawasi itu tidak benar,” tambahnya.
Transparansi Jadi Kunci
Dialog terbuka antara wartawan dan Harita Nickel ini memberi kesan bahwa perusahaan berupaya menepis stigma industri tambang yang tertutup. Dengan keterbukaan, media mendapat ruang untuk menguji sekaligus menyampaikan informasi yang lebih jernih kepada masyarakat.
“Transparansi adalah kunci. Kami ingin masyarakat tahu bahwa Harita Nickel serius membangun desa, lingkungan, dan masa depan bersama warga lingkar tambang,” tandas Bayu.(Red)












Komentar